perspektif lain Langsung ke konten utama

Postingan

Ngobrol Ringan Kastrat HMTM Patra x HMS ITB

Konsolidasi dengan Patra dilakukan pada tanggal 10 Februari 2018 jam 07.00-07.58. Konsolidasi ini berupa ngobrol santai dengan Ketua Departemen Kajian dan Aksi Strategis Patra 2017, Khairullah, TM 2014. Fakta pertama yang kami ketahui bahwa Patra mempunyai dua depatrtemen kajian yaitu Kajian Energi, seperti departemen keilmuan di himpunan lain, serta Kajian dan Aksi Strategis yang dipimpin Bang Khai ini. Kepungurusan Patra baru akan turun sama dengan HMS yaitu akhir Februari dan melantik pengurus baru setelah UAS.

Nilai yang dibawa oleh Kastrat Patra 2017 yaitu membaca, menulis, berdiskusi. Hal tersebut termanifestasi dengan penurunan nilai ke anggota berupa seruan untuk membaca 1 buku setiap bulan dan menulis resume buku tersebut, serta menulis 1 isu actual yang dibawa oleh Kastrat Patra atau isu lain untuk kemudian di kumpulkan dalam 1 arsip di akhir kepengurusan. Hal unik yang dilakukan Patra untuk Kastrat ini salah satunya yaitu tidak membuat roadmap isu untuk setahun kepengurusan…

Masyarakat bagian dari Saya, Otokritik Pengabdian Masyarakat

Berapa banyak kegiatan berlabel pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa sesuai amanat dari pendahulu negeri?
Menurut artikel berjudul "Meretas Fungsi Tradisional Universitas" oleh Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo memberikan pandangan bahwa asal-usul sosial, wujud, bentuk, dan hakikat pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi di Indonesia sampai sebagian besar dilembagakan etitasnya haruslah dilihat perjalanannya lewat ketentuan undang-undang, sejarah yang berjalan, telaah filosofis dan praktik di lapangan yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang awalnya berfokus terhadap kegiatan akademik belajar-mengajar dalam ruang kecil bernama kuliah berkembang sesuai perkembanganan zaman dengan mulai ikut fokus kepada hal berkaitan penelitian. Namun, akibat pergolakan di sebelum sampai awal kemerdekaan yang menjadikan para intelektual muda kampus keluar dari ruang kecil kuliahnya untuk membantu pergerakan dan pemertahanan kemerdakaan, maka munculla…

Tidak Mau Menjadi Seorang Pemimpin

Sejarah mencatatkan penanya bahwa saya pertama kali memimpin sekumpulan orang dengan tujuan yang sama serta berada di ranah formal yaitu ketika menjadi ketua kelas sewaktu TK.
Wah, kok TK sih, nggak menarik bangetYap, walaupun tugasnya hanya seremeh temeh untuk memimpin doa, menyiapkan baris sebelum masuk kelas, serta memimpin rombongan saat berkegiatan outdour diluar sekolah, saat itu suara saya dan apapun yang saya lakukan selalu di Sami'na Wa Atho'na oleh semua orang di belakang saya, bahkan termasuk gurunda tercinta saya. Namun hal tersebut jelas sangat membuat saya pede dan woles aja ketika disuruh untuk berbicara kedepan serta memberikan pandangan untuk sesuatu hal.

Hal tersebut berlanjut ke jenjang sekolah dasar. Ini disebabkan juga karena sebagian anak TK saya sebelumnya masuk ke SD yang sama dengan saya. Saya terpilih kembali menjadi seorang ketua kelas dari kelas 2 sampai kelas 6. Ketika di kelas 7-9 SMP dan 10-11 SMA hal tersebut terjadi lagi dengan pola yang mirip…