bela diri Langsung ke konten utama

bela diri

di tahun kedua kuliah ini saya ikut unit kegiatan mahasiswa baru yaitu perisai diri, persma, dan ksr. di tahun pertama sebenarnya saya ikut banyak unit namun karena males dan ternyata ndak sesuai keinginan hati saya protol satu per satu, hehe.

saya pengen cerita tentang perisai diri. moga ndak ada yang saya lebihkan dan kurangkan. moga juga ndak terlalu narsis dan terbayang berlebihan tentang romansitisme masa lalu bersama tapak suci, hehe.

saat kelas dua sd saya pernah ikut kegiatan bela diri yang lain yaitu tapak suci putera muhammadiyah (kemudian saya singkat menjadi tapak suci) karena sekolah saya memang sekolah dasar swasta milik yayasan muhammadiyah. waktu sd setiap anak diberikan minimal satu kesempatan mengikuti ekstrakulikuler yang ada di internal sekolah. waktu itu teman sekelas saya banyak yang ikut sepak bola, olahraga yang ngetren dan bekenlah untuk anak laki-laki saat itu.

diluar jam sekolah saya sebenarnya sudah ikut banyak kegiatan yaitu klub bulutangkis tunas harapan yang latihan di GOR Bulutangkis Ponorogo, klub mipa olimpiade, pramuka hizbul wathan, dan tahsin tartil di masjid quba Ponorogo. pilihan saya ikut tapak suci saat itu dipengaruhi beberapa hal, pertama, saya diajak raka, temen depan rumah yang se-sd, smp, dan sma, haha. kedua, untuk olahraga saya sudah ikut klub bulutangkis tunas harapan. ketiga, saya males mikir berat dan pengen cari banyak hal baru buat main main, hehe. pertimbangan yang warbyasa untuk anak sd kelas dua.


pada saat itu energi saya memang lagi full fullnya. saya anti terhadap kata mager. bisa dianggap hiperaktif lah, hehe. lincah, cepat, dan sangat sehat secara mental, akademik, dan prestasi. jadwal saya untuk latihan tapak suci ini adalah setiap rabu jam satu siang sampai sebelum maghrib. waktu yang lebih lama daripada ekstra lain yang biasanya cuma sampai jam empat sore.

pertama kali ikut peserta yang daftar sampai ratusan. namun hal itu tidak berlangsung lama, beberapa pertemuan selanjutnya jumlah peserta langsung menyusut secara eksponensial. hal itu terjadi sampai saya meninggalkan dunia per-tapak suci-an ketika naik kelas enam sd. ketika mau meninggalkan tapak suci ini teman saya yang setingkat tinggal empat orang. hal itu tidak termasuk raka yang memilih bergabung dengan grup hadroh yang baru dibentuk oleh bu yayuk ketika saya naik kelas lima sd. saat terakhir saya meninggalkan latihan rutin tapak suci saya telah mencapai sabuk kuning melati empat. tinggal satu tahap lagi untuk ganti sabuk sebenarnya, wkwk.


informasi tambahan bahwa di tapak suci terdapat 16 tingkatan yaitu:
1. Siswa dasar(Putih Polos)
2. Siswa Satu(Kuning)
3. Siswa Dua (Kuning melati cokelat satu)
4. Siswa Tiga(Kuning melati cokelat dua)
5. Siswa Empat(Kuning melati cokelat tiga)
6. Siswa Lima(Kuning melati cokelat empat)
7. Kader dasar(Biru Polos)
8. Kader Muda (Biru Melati Merah Satu)
9. Kader Madya(Biru Melati Merah Dua)
10. Kader Kepala(Biru Melati Merah Tiga)
11. Kader Utama(Biru Melati Merah Empat)
12. Pendekar Muda(Hitam Melati Merah Satu)
13. Pendekar Madya(Hitam Melati Merah Dua)
14. Pendekar Kepala(Hitam Melatih Merah Tiga)
15. Pendekar Utama(Hitam Melati Merah Empat)
16. Pendekar Besar(Hitam Melati Merah Lima)

namun setelah saya ndak ikut latihan, jumlah peserta kembali naik lagi. sangat menggembirakan tentunya bagi pelatih dan anggota tapak suci lainnya, hehe. pelatih saya saat itu adalah pak hendrik (moga njenengan selalu diberi barokah ilmu bapak). beliau saat itu ikut membantu administrasi di sd muhammadiyah ponorogo.

hal yang menarik yang saya rasakan saat di tapak suci selain jumlah peserta untuk cabang latihan di perguruan muhammadiyah ponorogo yaitu saat ujian kenaikan tingkat. perlu diketahui bahwa tapak suci menggunakan tes tulis semacam al-islam dan kemuhammadiyahan untuk membuat parameter seorang siswa bisa lulus untuk naik tingkat ataupun tidak. hal ini sepertinya belum pernah saya lihat di perguruan bela diri yang lain. mungkin kalau ada ya yang semacam tapak suci tapi di yayasan nu yaitu pagar nusa. jadi tesnya ada dua, ada tes tulis ada tes praktek. dimana nilai keduanya dipampang sehari setelah pelaksanaan ujian kenaikan tingkat dan penyematan sabuk dilaksanakan. atas hal ini juga, nilai saya untuk materi tes tulis al-islam kemuhammadiyahan pernah masuk 10 besar padahal status saya saat itu kan anak sd ingusan, wkwk. untuk tes praktek tahulah saya dapet berapa, ndak pernah masuk di dua halaman pertama alias diluar 40 besar siswa dari seluruh siswa cabang ponorogo. oh ya, tesnya dilaksanakan bareng se kabupaten ya, jadi muncul hal hal diatas.

hal menarik lain bahwa saya perah cedera di punggung permukaan tangan. tangan saya memar dan terasa sakit seperti fraktur akibat menahan serangan kaki lawan saat sabung alias tarung bebas di waktu latihan sore pas kelas 4. saya melakukan tangkisan dengan membelokkan arah tendangan keluar dari arah tubuh saya. ladalah ternyata saya mengambil jarak yang terlalu jauh. telapak tangan saya akhirnya menjadi sasaran empuk tendangan yang dilakukan dengan teknik yang hampir sempurna itu. badan lawan yang besar dan tinggi tentu saja menambah kekuatan tendangan itu. ibu saya sempat khawatir namun ibu cuma memberikan obat dan membebat tangan saya selama seminggu. jadilah saya seminggu ndak bisa nulis karena tangan yang cedera merupakan tangan kanan. untung juga saat itu saya lagi ndak ikut lomba kayak lomba matematika sejenisnya atau lomba pramuka. saat itu sangat kebetulan saya lha kok jadi ketua sangga, wkwk. pengalaman beberapa tahun ikut tapak suci tidak akan saya lupakan. memang sih sudah banyak jurus atau sikap yang lupa tapi ilmu dasar seperti tendangan, tangkisan, atau bahkan salam perguruan tentu saya tidak akan lupa, hehe.


saya baru sekali masuk latihan di perisai diri itb (sampai saat terakhir tulisan ini dibuat). sebenarnya ketika saya hadir harusnya itu merupakan pertemuan ketiga. namun karena ada beberapa hal lain yang harus saya kerjakan saya jadi skip pertemuan sebelumnya. pas pertemuan yang harusnya ketiga ini, pelatih mengulangi banyak gerakan yang sudah diajarkan ketika pertemuan pertama dan kedua. tentu saya ndak ada yang langsung nyantol. saya harus lihat beberapa saat untuk memahami gerakan gerakan tersebut. cukup banyak hal baru atau sebenarnya lama karena saya sudah tidak latihan setiaknya 8 tahun terakhir, hehe.


dari pertemuan pertama bagi saya, saya mengamati beberapa hal yang menarik. pertama, saya baru tahu sejarah perisai diri berasal dari surabaya. padahal awalnya saya mengira berasal dari tanah sunda karena pelatih dan peserta didik lain kebanyakan orang sunda, mereun. kedua, perisai diri sepertinya tidak menggunakan kuda kuda sebagai sikap bertahan maupun menyerang. dari sekali pertemuan pelatih mengarahkan pada dua hal yaitu
serang balas. jadi kelincahan ketika kita bertahan maupun menyerang sangat diperlukan. ketiga, semoga perisai diri bisa menjadi keluarga baru yang menyenangkan.

btw, saya dan aldy lagi mau nulis sesuatu yang merupakan kegelisahan kami. aldy lagi balik dari menwa. yaps, saya teruskan kapan kapan kalau tidak males juga, hehe. makasih.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Startup di Bidang Kontruksi Sipil? Mungkinkah?

Kita melihat dunia dekade ini semakin cepat, semakin maju, dan semakin inovatif. Salah satu motor metrik yang dapat kita perhatikan yaitu lewat semakin menjamurnya startup teknologi yang mulai mendisrupsi model bisnis dari para pemain lama. Salah satu contoh di dunia adalah keberadaan Uber yang menghilangkan sebagian pasar dari taksi konvensional, AirBnB yang merebut pasar kamar hotel pinggir jalan, dan Amazon yang menghentak publik lewat toko mayanya yang mengambil hati para ibu-ibu, anak-anak, serta bapak-bapak yang membutuhkan kebutuhan sehari-hari. Tidak perlu jauh sebenarnya, di Indonesia kita melihat bagaimana Traveloka dengan lini bisnis utama yaitu penjualan tiket kereta dan pesawat menebas pasar agen tiket fisik yang menjamur di pusat-pusat kota. Selain itu e-commerce semacam Bukalapak dan Tokopedia disadari atau tidak mematikan pasar dari toko fisik besar macam mall dan pusat perbelanjaan.

Aktivitas terdisrupsi atau mendisrupsi yang dikenalkan oleh Christensen (1997) telah …

Berkemahasiswaan dan Berhimpun: Sejarah Singkat, Tantangan, dan HMS

BEKEMAHASISWAAN DAN BERHIMPUN: SEJARAH SINGKAT, TANTANGAN, DAN HMS
Oleh: Reza Prama Arviandi
15015041

Mahasiswa adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi. Di dalam struktur pendidikan di Indonesia mahasiswa memegang status pendidikan tertinggi diantara yang lain (Balai Bahasa, 2013). Selain itu menurut Knopfemacher (Sarwono, 1978), seorang mahasiswa haruslah siap untuk menjadi calon intelektual muda. Mahardhika Zein (HMS ITB 2012) dalam seminar tentang kemahasiswaan di hari pertama Kaderisasi Pasif HMS ITB 2015 memaparkan bahwa seorang mahasiswa yang ideal haruslah memiliki 3 poin yang menurut Bung Hatta (1950) sangatlah krusial. Poin itu yaitu memiliki keinsyafan dalam kesejahteraan masyarakat, cakap dalam memangku jabatan, dan cakap menguasai IPTEK.

Begitu pentingnya arti mahasiswa maka mucullah apa yang disebut dengan kemahasiswaan. Mahardhika Zein memberikan kesempatan kepada mahasiswa sipil ITB 2015 untuk memberi pendapat tentang kemahasiswaan. Dari seluruh pernyataan ya…

masalah infrastruktur di ponorogo dan harapan berkemahasiswaan di ITB

Reza Prama Arviandi – 16615184 - FTSL Diajukan untuk memenuhi tugas OSKM ITB 2015
Ponorogo, merupakan sebuah kabupaten yang berada di barat provinsi Jawa Timur. Merupakan daerah dataran rendah yang berbukit di pinggir-pinggir daerahnya. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan di sebelah utaranya, dengan Kabupaten Kediri di sebelah timurnya, dengan Kabupaten Wonogiri di sebelah baratnya, dan Kabupaten Pacitan di sebelah selatannya. Ponorogo masih terjaga keasrian dan keutuhan hutan serta persawahannya. Namun, selain karena adanya budaya untuk menjaga kedua hal tersebut, kurangnya kreativitas serta ide solusi dari seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat banyak permasalahan di Ponorogo yang bisa menjadi bom waktu sehingga dapat meledak kapan saja.
Masalah pertama di Ponorogo adalah transportasi massal. Di Ponorogo sekarang sudah sangat jarang dijumpai moda transportasi seperti bis ataupun angkodes yang menghubungkan satu daerah desa ke satu daerah desa yang lain.…