Berkemahasiswaan dan Berhimpun: Sejarah Singkat, Tantangan, dan HMS Langsung ke konten utama

Berkemahasiswaan dan Berhimpun: Sejarah Singkat, Tantangan, dan HMS

BEKEMAHASISWAAN DAN BERHIMPUN: SEJARAH SINGKAT, TANTANGAN, DAN HMS
Oleh: Reza Prama Arviandi
15015041

diambil dari sibadeshmsitb.wordpress.com

Mahasiswa adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi. Di dalam struktur pendidikan di Indonesia mahasiswa memegang status pendidikan tertinggi diantara yang lain (Balai Bahasa, 2013). Selain itu menurut Knopfemacher (Sarwono, 1978), seorang mahasiswa haruslah siap untuk menjadi calon intelektual muda. Mahardhika Zein (HMS ITB 2012) dalam seminar tentang kemahasiswaan di hari pertama Kaderisasi Pasif HMS ITB 2015 memaparkan bahwa seorang mahasiswa yang ideal haruslah memiliki 3 poin yang menurut Bung Hatta (1950) sangatlah krusial. Poin itu yaitu memiliki keinsyafan dalam kesejahteraan masyarakat, cakap dalam memangku jabatan, dan cakap menguasai IPTEK.

Begitu pentingnya arti mahasiswa maka mucullah apa yang disebut dengan kemahasiswaan. Mahardhika Zein memberikan kesempatan kepada mahasiswa sipil ITB 2015 untuk memberi pendapat tentang kemahasiswaan. Dari seluruh pernyataan yang masuk maka disimpulkan bahwa kemahasisawaan adalah segala seluk beluk yang dilakukan oleh mahasiswa. Implikasi dari hal tersebut maka berkemahasiswaan adalah cara yang dilakukan mahasiswa untuk memenuhi kebutuhannya.

Kita mundur kebelakang agar dapat melihat lebih jelas apa makna dari mahasiswa yang sebenarnya dan apa yang sebenarnya mereka lakukan sehingga mendapat posisi yang istimewa dalam kontruksi struktur masyarakat sosial kita. Mahardhika Zein menyusun kronologis berdasar pergolakan yang menjadi perhatian publik Indonesia.

Zaman pertama yaitu zaman pra-kemerdekaan. Zaman ini dimulai tahun 1908 ditandai dengan keberadaan Boedi Oetomo. Saat itu Boedi Oetomo sebagai organisasi kemahasiswaan yang mewakili kaum intelektual merasa gelisah dengan kondisi bangsanya. Kegelisahan itu diekspresikan dengan membentuk kelompok diskusi mengenai usaha merebut kemerdekaan. Setelah eksisnya Boedi Oetomo kemudian muncullah kantong pergerakan mahasiswa pada periode 1912-1920an. Kantong ini berbasis daerah pulau asal seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan Jong Borneo. Seluruh usaha untuk memulai jalan menuju kemerdekaan oleh para mahasiswa mencapai puncaknya ketika pada tahun 1928 diselenggarakan Kongres Sumpah Pemuda yang pertama. Kongres ini berhasil menyatukan kantong pergerakan mahasiswa yang sebelumnya mengusung nilai kedaerahan menjadi nilai nasionalisme.

Zaman kedua yaitu zaman kemerdekaan. Mahasiswa pada era ini berkemahasiswaan dengan cara memerangi neokolonialisme dan neoimperialisme. Hal itu diwujudkan melalui usaha mengangkat senjata ataupun diplomasi.

Zaman ketiga yaitu pascakemerdekaan. Mahasiswa pada era ini berkemahasiswaan dengan cara mengawal kemerdekaan. Mahasiswa yang merupakan individu yang mempunyai intelektual mengembangkan perannya untuk menjadi pengawas kebijakan pemerintah. Hal itu ditunjukkan dengan beberapa peristiwa yaitu peristiwa Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat pada tahun 1966. Saat itu mahasiswa menuntut perbaikan kondisi negara. Hal tersebut, menurut mahasiswa, disebabkan oleh melencengnya tujuan founding father Soekarno dari tujuan awal kemerdakaan. Pada tahun 1966, dimulai juga pengembangan peran melalui penguatan posisi politik mahasiswa. Semakin berkembangnya peran mahasiswa didukung dengan kebijakan massa mengambang pada saat pemerintahan presiden Soeharto. Massa mengambang adalah masyarakat yang tidak mempunyai landasan ideologi politik. Sehingga ketika pemilu suara dari massa ini dapat dipermainkan. Oleh karena itu, keberadaan mahasiswa dianggap penting karena mempunyai kapabilitas namun tidak berada dalam pusaran kepentingan. Pada tahun 1971 mahasiswa menemukan bentuk baru berkemahasiswaan dengan mulai populernya KKN, Kuliah Kerja Nyata, sebuah kegiatan berkemahasiswaan yang sesuai dengan poin ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Melalui KKN mahasiswa diharapkan mampu menerapkan ilmu ketika berkemahasiswaan kedalam ruang lingkup masyarakat yang sebenarnya. Pada tahun 1974 timbulah gejolak dikalangan mahasiswa dengan meletusnya peristiwa Malari, Malapetaka Lima Belas Januari. Hal itu disebabkan pemerintah ingin membatasi gerak mahasiswa melalui program NKK melalui BKK. Program tersebut mempunyai kepanjangan Nasionalisasi Kehidupan Kampus melalui Badan Koordinasi Kemahasiswaan. Daoed Joesoef sebagai menteri pendidikan saat itu ingin memastikan tidak ada kegiatan politik praktis yang dilakukan mahasiswa di dalam kampus. Mahasiswa dituntut untuk lebih mengembangkan keprofesiannya dan belajar akademik dengan lebih serius. Namun pemberedelan ini ternyata malah membungkam aspek kritis mahasiswa untuk mengawal kebijakan pemerintah. Efek dari malari ini meledak lebih dahsyat lagi pada tahun 1978 dimana dewan mahasiswa dan senat mahasiswa di perguruan tinggi sebagai motor penggerak kegiatan berkemahasiswaan diberedel. Aksi penolakan timbul dimana-mana dengan diawali oleh dewan mahasiswa ITB. Hampir dua dekade berikutnya aksi perjuangan mahasiswa mencapai puncaknya dengan meletusnya peristiwa Trisakti. Momentum peristiwa ini menggeret presiden Soeharto ke pesakitan. Jabatan sebagai kepala negara yang sudah diampu selama 32 tahun sebelumnya lengser akibat demo besar-besaran oleh mahasiswa. Peristiwa ini juga sebagai penanda munculnya zaman reformasi. Perubahan struktur dan kebutuhan pemerintah secara masif dilakukan secara cepat. Mahasiswa dan kemahasiswaan akhirnya mencapai pergeseran nilai baru.

Zaman terakhir yang kita rasakan sekarang yaitu zaman pascareformasi. Zaman ini merupakan zaman yang tatanannya dibentuk oleh reformasi. Pada masa ini peran mahasiswa menjadi sangat terdiverifikasi. Mahasiswa bergerak di semua bidang kontruksi sosial di masyarakat. Mahasiswa melakukan kegiatan yang kreatif dan inovatif untuk membangun bangsanya. Mahasiswa mengisi kemerdekaan dengan ekspresi mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Berkemahasiswaan berkembang lebih jauh dengan adanya Indonesia Mengajar, Ekspedisi Pelita Muda, Gebrak Indonesia, dan Indonesia Menyala.

Mahardhika Zein mempertanyakan bagaimana membaca arah kemahasiswaan kita melihat kontruksi sejarah singkat yang sebelumnya sudah dipaparkan. Para peserta memberikan jawaban yang berbeda-beda antara lain yaitu kemahasisawaan kita sekarang sudah mati. Kemahasiswaan kita sudah tidak bisa memberikan sumbangsih nyata terhadap penyelewengan yang terjadi. Kemahasiswaan kita sekarang memang dibentuk dari mahasiswa yang manja dan tidak mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu. Mahardhika Zein menyimpulkan bahwa kemahasiswaan di masa lalu dibentuk oleh mahasiswa yang merasakan perjuangan meraih kemerdekaan dan membuat rancangan awal desain negara yang baru lahir. Keberadaan mahasiswa sebagai kaum intelektual yang berjumlah sangat sedikit dibandingkan jumlah masyarakat Indonesia pada masa itu menambah beban berat kemerdekaan bertumpu pada golongan mahasiswa.

Tantangan di masa depan yang akan dihadapi oleh mahasiswa, seperti yang ditanyakan oleh Mahardhika Zein, dijawab oleh beberapa peserta seminar yaitu mahasiswa perlu mempersiapkan diri agar tidak mudah dibodohi oleh banyak isu yang semakin mudah menyebar. Tantangan mahasiswa untuk mandiri semakin berat dengan semakin mudahnya akses terhadap berbagai hal dan kesejahteraan dari orang tua atau pengasuh yang memberikan kebebasan. Semakin mudahnya memperoleh akses informasi maka mahasiswa diharapkan mempunyai standar kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga mahasiswa tidak terbawa arus ideologi yang salah. Mahasiswa harus masuk ke kancah pergaulan internasional agar mampu bersaing dengan bangsa asing.

Mahardhika Zein mengingatkan bahwa sebagai mahasiswa kita mempunyai kewajiban mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bung Hatta pun mengajukan prasyarat individu sebagai mahasiswa yaitu pada poin cakap di masyarakat, memiliki susila, dan memiliki keinsyafan pada suatu masalah. Poin terakhir ini haruslah dibaengi dengan pernyataan bahwa mahasiswa harislah mempunyai sikap atas segala hal yang berada dihadapannya dan bersikap demokrat. Bersikap demokrat yang dimaksud yaitu mahasiswa harus tahu kewajiban dan hak dalam berkemahasiswaan.

Mahardhika Zein menambahkan dua poin penting peran mahasiswa yaitu mahasiswa dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas diri dan aktif bergerak membangun bangsanya. Mempertahankan kekritisan juga harus diperbaiki sebab merupakan komponen penting untuk membentuk dinamika membangun bangsa yang ideal. Poin tersebut merupakan semangat yang dibawa oleh KM ITB melalui konsepsi tahun 2012 bahwa pendidikan di ITB dilaksanakan untuk membentuk karakter mahasiswa. Hal tersebut bermuara pada satu tujuan yaitu membentuk insan akademis yang mumpuni.

Materi kemudian dilanjutkan dengan permasalahan yang diajukan Mahadhika Zein yaitu bagaimana kita sebagai mahasiswa mampu mencapai esensi berkemahasiswaan. Jawaban yang muncul beragam mulai dari membuat kepekaan kita sebagai mahasiswa bertambah sampai membaca kembali sejarah kemahasiswaan itu sendiri. Mahardhika Zein memberi satu formula yang bisa menjadi alteratif langkah mencapainya. Hal tersebut divisualisasikan dengan bentuk anak tangga. Hal itu berarti langkah yang akan dilakukan memang bertahap. Tangga terbawah yaitu kesejahteraan. Setiap mahasiswa harus melakukan hal yang berkenaan dengan pemenuhan akademik, finansial, dan sosial. Tangga kedua yaitu pendidikan. Setiap mahasiswa harus bertanggugjawab atas segala hal berkaitan dengan pendidikannya. Tangga teratas yaitu aktualisasi diri. Setiap mahasiswa diharapkan mengembangkan kemampuan pribadinya yang sesuai dengan bakat, minat, serta profesinya.

Selain langkah mencapainya, Mahardhika Zein menyinggung bagaimana cara mewujudkan hal tersebut. Hal tersebut dibagi atas dasar jumlah individu yang mewujudkan. Langkah tersebut diilustrasikan dengan tangga kembali. Tangga terbawah yaitu keseluruhan individu. Hal tersebut menandakan bahwa kebutuhan akan 3 hal yang diatas dapat dicapai dengan kolaborasi keseluruhan mahasiswa. Kebutuhan itu berwujud seperti kepastian pembiayaan pendidikan, keringanan biaya kuliah, dan tersedianya lingkungan belajar yang kondusif. Tangga di tengah yaitu kelompok. Kebutuhan ini biasanya didasari oleh hobi seperti kelompok kegiatan bela diri dan bermain musik. Tangga teratas yaitu individu. Kebutuhan ini dicukupi oleh masing-masing individu dengan caranya sendiri.

Salah satu ekspresi dari berkemahasiswaan adalah berhimpun. Berhimpun adalah kegiatan yang dilakukakan oleh sekumpulan orang untuk mencapai tujuan tertentu. Berhimpun dalam konteks mahasiswa sipil ITB adalah perwujuan dari HMS. Kebutuhan akan aktualisasi diri dan pengembangan profesi menjadikan posisi HMS di hadapan mahasiswa sipil ITB menjadi penting. HMS pada awalnya memang dibentuk dari kesamaan di bidang keprofesian. Namun perkembangannya menjadikan HMS adalah mahasiswa sipil ITB itu sendiri. HMS mempunyai basis massa yaitu mahasiswa sipil ITB. Basis masa inilah yang disebutkan Mahardhika Zein sebagai basis massa KM ITB dalam konteks mahasiswa ITB secara keseluruhan. Hal tersebut menjadikan himpunan sebagai pendukung arah gerak KM ITB. Dalam proses kaderisasi di KM ITB mengenal RUK. Hal tersebut merupakan kepanjangan dari Rancangan Umum Kaderisasi. HMS sebagai himpunan yang berjalan bersama dengan KM ITB menjadi eksekutor dalam RUK. Praktiknya yaitu keberjalanan Kaderisasi Pasif HMS 2015.

Penjelasan materi diteruskan oleh perwakilan dari HMS 2014 yaitu Marco dan Arya . HMS menyatakan bahwa setiap mahasiswa sipil ITB mempunyai kebutuhannya masing-masing dan HMS berusaha memenuhi setiap kebutuhan individu tersebut. HMS sebagai himpunan mempunya sistem dan budaya tersendiri. Oleh karena itu setiap kader yang baru masuk diharapkan memahami dan segera menyesuaikan dengan lingkungan yang baru.

Penjelasan diteruskan mengenai sedikit hal yang berkaitan dengan HMS secara umum. Marco menjelaskan bahwa tujuan dari HMS adalah membina anggota muda untuk siap menjadi anggota biasa melalui Kaderisasi Pasif HMS 2015. Arya menjelaskan bahwa HMS dalam kaderisasi ini menekankan pada sifat membina dan mendidik. Marco menambahkan bahwa suasana di HMS menginginkan tidak ada yang lebih tinggi diantara sesama anggota. Setiap anggota dipandang sebagai manusia dewasa yang mampu mengetahui sebab akibat dari apa pun yang telah dilakukan. Mengamini tanggapan dari peserta, Marco menyimpulkan dalam kaderisasi ini diharapkan seluruh anggota muda “mengkosongkan gelas” agar ilmu yang diterima dapat bersih dan tertanam menjadi kepribadian yang baik. Maksud dari mengkosongkan gelas yaitu menghilangkan seluruh asumsi tentang keberjalanan kaderisasi ini nanti. Arya menutup seminar pada sore hari itu dengan pesan agar setiap anggota muda dapat menikmati proses pendidikan yang ada di HMS dan mampu mengimplementasikan di kehidupan nyata.

Seluruh hal yang ada di dalam seminar ini kemudian didiskusikan kembali dalam FGD (Forum Group Discussion). Catatan saya terhadap hal ini yaitu ternyata beberapa teman masih menganggap bahwa berkemahasiswaan atau lebih khususnya berhimpun adalah himpunan dan demo pergerakan. Padahal dalam hemat saya, berkemahasiswaan bukan saja tentang demo dan berkumpul di himpunan. Berhimpun bukan hanya tentang himpunan. Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa berkemahasiswaan adalah segala seluk beluk tentang mahasiswa. Berhimpun bisa berarti berkumpul dengan teman lain di unit maupun di paguyuban. Catatan terakhir terhadap kegiatan Kaderisasi Pasif HMS 2015 yaitu membuat kekritisan saya semakin diuji dan angkatan kami, angkatan 2015, menjadi lebih solid serta mengenal seluruh anggotanya. Semoga HMS semakin Jaya!

Referensi

KM ITB. 2012. Konsepsi Rancangan Umum Kaderisasi. Bandung: KM ITB.
Sarwono. 1978. Perbedaan Pemimpin dan Aktivis dalam Gerakan Protes Mahasiswa. Bandung: Bulan Bintang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Startup di Bidang Kontruksi Sipil? Mungkinkah?

Kita melihat dunia dekade ini semakin cepat, semakin maju, dan semakin inovatif. Salah satu motor metrik yang dapat kita perhatikan yaitu lewat semakin menjamurnya startup teknologi yang mulai mendisrupsi model bisnis dari para pemain lama. Salah satu contoh di dunia adalah keberadaan Uber yang menghilangkan sebagian pasar dari taksi konvensional, AirBnB yang merebut pasar kamar hotel pinggir jalan, dan Amazon yang menghentak publik lewat toko mayanya yang mengambil hati para ibu-ibu, anak-anak, serta bapak-bapak yang membutuhkan kebutuhan sehari-hari. Tidak perlu jauh sebenarnya, di Indonesia kita melihat bagaimana Traveloka dengan lini bisnis utama yaitu penjualan tiket kereta dan pesawat menebas pasar agen tiket fisik yang menjamur di pusat-pusat kota. Selain itu e-commerce semacam Bukalapak dan Tokopedia disadari atau tidak mematikan pasar dari toko fisik besar macam mall dan pusat perbelanjaan.

Aktivitas terdisrupsi atau mendisrupsi yang dikenalkan oleh Christensen (1997) telah …

Dilema Energi Terbarukan: Pertamina vs PLN

Ceritanya beberapa bulan lalu lagi kumpul dengan alumni. Alumni yang saya maksud yaitu alumni ITB yang kok bisa bisanya berasal dari kota kelahiran tercinta yang jumlah sangat sedikit, Ponorogo. Salah satu cerita yang sangat berkesan yaitu tentang perkembangan bisnis dua raksasa BUMN di Indonesia di masa sekarang. Saya sebut raksasa mungkin untuk menggambarkan begitu perkasanya mereka di masa lalu. Dua raksasa BUMN itu adalah PLN dan Pertamina.

Sebelum abad 21 dimulai di tahun 2000, seringkali kita melihat dan mendengar betapa sejahteranya menjadi buruh intelektuil di kedua korporat tersebut, khususnya Pertamina. Jadi seorang fresh graduate gaji pokoknya di masa itu katanya bisa sama dengan pejabat eselon II di provinsi, yang tentu diraih belasan atau puluhan tahun. Menjadi seorang karyawan, syukur-syukur punya jabatan agak tinggi disitu, menjadi rebutan banyak orang atau para lulusan perguruan tinggi manapun.

Kedua korporasi tersebut, PLN dan Pertamina, memang mempunyai lini bisnis …